APSI Nganjuk

My Photo
Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur
Sebagai Media Informasi Pendidikan & Pembelajaran (Dari Kita Untuk Semua) Kontak: 082143737397 atau 085735336338

Friday, August 24, 2012

SUPERVISI AKADEMIK

 

A.   Pendekatan

Menurut Sahertian  (Sahertian, 2000:44-52). pendekatan yang digunakan dalam melaksanakan supervisi akademik, ada 3, yaitu:

1.    Pendekatan Langsung (Direktif) 

Pendekatan direktif adalah cara pendekatan terhadap masalah yang bersifat langsung. Supervisor memberikan arahan langsung. Sudah tentu pengaruh perilaku supervisor lebih dominan..

2.    Pendekatan Tidak Langsung (Non-direktif)

Pendekatan tidak langsung (non-direktif) adalah cara pendekatan terhadap permasalahan yang sifatnya tidak langsung. Perilaku supervisor dalam pendekatan non-direktif  adalah:  mendengarkan, memberi penguatan, menjelaskan, menyajikan, dan memecahkan masalah

3.    Pendekatan Kolaboratif

Pendekata koplaboratif adalah cara pendekatan yang memadukan cara pendekatan direktif dan non–direktif menjadi pendekatan baru. Pada pendekatan ini baik supervisor maupun guru bersama-sama, bersepakat untuk menetapkan struktur, proses dan kriteria dalam melaksanakan proses percakapan terhadap masalah yang dihadapi guru. Perilaku supervisor adalah sebagai berikut: menyajikan, menjelaskan, mendengarkan, memecahkan masalah, dan negosiasi

Pendekatan supervisi akademik yang lain (Achecon, Keith A, at al, 1987) adalah :

  1. Scientific didasarkan atas data (hasil pengamatan dan pencatatan yang teliti, objektif dan valid) baru diambil langkah perbaikan yang diperlukan
  2. Artistic dilakukan secara tidak to the point, pengawas menggunakan seni tertentu.
  3. Clinic didasarkan atas diagnosa kekurangan (kelemahan=penyakit) baru diberikan perbaikan.  

Pendekatan Artistik

Pendekatan artistik berpandangan bahwa keberhasilan pengajaran tidak dapat diukur dengan menggunakan peristiwa pengajaran yang berada dalam konteks yang berbeda.

Pendekatan artistik merekomendasikan agar supervisor turut mengamati, merasakan, dan mengapresiasikan pengajaran yang dilakukan oleh guru. Pembina harus mengikuti mengajar guru dengan cermat, telaten, dan utuh.

Pembina bagaikan menyaksikan tampilan-tampilan karya seni, namun harus dilihat secara menyeluruh dengan pengamatan yang cermat, turut merasakan dan mencoba menangkap maknanya.

Langkah-langkah Pendekatan Artistik

  1. Ketika mau berangkat ke lapangan, supervisor tidak boleh punya pretensi apa pun tentang pengajaran yang akan diamati.
  2. Mengadakan pengamatan terhadap guru dengan cermat, teliti, utuh, menyeluruh serta berulang-ulang.
  3. Memberikan interpretasi atas hasil pengamatan secara formal, setelah pengajaran selesai.
  4. Menyusun hasil interpretasi dalam bentuk narasi.
  5. Menyampaikan hasil interpretasi yang sudah dinarasikan kepada guru.
  6. Menerima balikan dari guru terhadap yang telah dilakukan

 

B. TEKNIK SUPERVISI AKADEMIK

Ada bermacam-macam teknik supervisi akademik dalam upaya pembinaan kemampuan guru. Menurut Gwyn, teknik-teknik supervisi itu bisa dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu. teknik supervisi individual, danteknik supervisi kelompok.

1.  Teknik Supervisi Individual

Teknik supervisi individual di sini adalah pelaksanaan supervisi yang diberikan kepada guru tertentu yang mempunyai masalah khusus dan bersifat perorangan. Teknik-teknik supervisi individual meliputi:

a.      Kunjungan Kelas

Kunjungan kelas adalah teknik pembinaan guru oleh kepala sekolah, pengawas, dan pembina lainnya dalam rangka mengamati pelaksanaan proses belajar mengajar sehingga memperoleh data yang diperlukan dalam rangka pembinaan guru. Tujuan kunjungan ini adalah semata-mata untuk menolong guru dalam mengatasi kesulitan atau masalah mereka di dalam kelas. Melalui kunjungan kelas, guru-guru dibantu melihat dengan jelas masalah-masalah yang mereka alami. Menganalisisnya secara kritis dan mendorong mereka untuk menemukan alternatif pemecahannya. Kunjungan kelas ini bisa dilaksanakan dengan pemberitahuan atau tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, dan bisa juga atas dasar undangan dari guru itu sendiri.

Ada empat tahap kunjungan kelas. :

-  persiapan pada tahap ini, supervisor merencanakan waktu, sasaran, dan cara mengobservasi selama kunjungan kelas.

-  pengamatan selama kunjungan, tahap ini, supervisor mengamati jalannya proses pembelajaran berlangsung.

-  akhir kunjungan pada tahap ini, supervisor bersama guru mengadakan perjanjian untuk membicarakan hasil-hasil observasi, sedangkan tahap terakhir adalah tahap tindak lanjut.

Ada beberapa kriteria kunjungan kelas yang baik, yaitu: (1) memiliki tujuan-tujuan tertentu; (2) mengungkapkan aspek-aspek yang dapat memperbaiki kemampuan guru; (3) menggunakan instrumen observasi tertentu untuk mendapatkan daya yang obyektif; (4) terjadi interaksi antara pembina dan yang dibina sehingga menimbulkan sikap saling pengertian; (5) pelaksanaan kunjungan kelas tidak menganggu proses belajar mengajar; (6) pelaksanaannya diikuti dengan program tindak lanjut

b.  Observasi Kelas

Observasi kelas secara sederhana bisa diartikan melihat dan memperhatikan secara teliti terhadap gejala yang nampak. Observasi kelas adalah teknik observasi yang dilakukan oleh supervisor terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Tujuannya adalah untuk memperoleh data seobyektif mungkin mengenai aspek-aspek dalam situasi belajar mengajar, kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam usaha memperbaiki proses belajar mengajar. Secara umum, aspek-aspek yang diamati selama proses pembelajaran yang sedang berlangsung adalah:

1)     usaha-usaha dan aktivitas guru-siswa dalam proses pembelajaran

2)     cara penggunaan media pengajaran

3)     reaksi mental para siswa dalam proses belajar mengajar

4)     keadaan media pengajaran yang dipakai dari segi materialnya.

Pelaksanaan observasi kelas ini melalui beberapa tahap, yaitu: (1) persiapan observasi kelas; (2) pelaksanaan observasi kelas; (3) penutupan pelaksanaan observasi kelas; (4) penilaian hasil observasi; dan (5) tindak lanjut. Dalam melaksanakan observasi kelas ini, sebaiknya supervisor menggunakan instrumen observasi tertentu, antara lain berupa evaluative check-list, activity check-list.

c.   Pertemuan Individual

Swearingen (1961) mengklasifikasi jenis percakapan individual ini menjadi empat macam sebagai berikut

1)   classroom-conference, yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di dalam kelas ketika murid-murid sedang meninggalkan kelas (istirahat).

2)   office-conference. yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di ruang kepala sekolah atau ruang guru, di mana sudah dilengkapi dengan alat-alat bantu yang dapat digunakan untuk memberikan penjelasan pada guru.

3)   causal-conference. yaitu percakapan individual yang bersifat informal, yang dilaksanakan secara kebetulan bertemu dengan guru

4)   observational visitation. yaitu percakapan individual yang dilaksanakan setelah supervisor melakukan kunjungan kelas atau observasi kelas

Dalam percakapan individual ini supervisor harus berusaha mengembangkan segi-segi positif guru, mendorong guru mengatasi kesulitan-kesulitannya, dan memberikan pengarahan, hal-hal yang masih meragukan sehingga terjadi kesepakatan konsep tentang situasi pembelajaran yang sedang dihadapi.

d.     Kunjungan Antar Kelas

Kunjungan antarkelas dapat juga digolongkan sebagai teknik supervisi secara perorangan. Guru dari yang satu berkunjung ke kelas yang lain dalam lingkungan sekolah itu sendiri. Dengan adanya kunjungan antarkelas ini, guru akan memperoleh pengalaman baru dari teman sejawatnya mengenai pelaksanaan proses pembelajaran pengelolaan kelas, dan sebagainya.

e.  Menilai Diri Sendiri

Nilai diri sendiri merupakan tugas yang tidak mudah bagi guru. Untuk mengukur kemampuan mengajarnya, di samping menilai murid-muridnya, juga menilai dirinya sendiri. Ada beberapa cara atau alat yang dapat digunakan untuk menilai diri sendiri, antara lain sebagai berikut.

1)   Suatu daftar pandangan atau pendapat yang disampaikan kepada murid-murid untuk menilai pekerjaan atau suatu aktivitas. Biasanya disusun dalam bentuk pertanyaan baik secara tertutup maupun terbuka, dengan tidak perlu menyebut nama.

2)   Menganalisa tes-tes terhadap unit kerja.

3)   Mencatat aktivitas murid-murid dalam suatu catatan, baik mereka bekerja secara perorangan maupun secara kelompok.

f.   Portofolio Supervision

Supervisor melakukan supervisi terhadap portofolio guru, mulai dari Silabus, RPP, Rekaman pelaksanaan pembelajaran, evaluasi (bentuk tes/soal, pelaksanaan, hasil evaluasi) Pengayaan dan/atau remedi, dan catatan lain yang dimiliki guru berkenaan dengan pembelajaran

g.  Action Research

Guru melakukan penelitian tindakan berdasarkan masukan/hasil diskusi dengan supervisor mengenai problema yang selama ini dihadadapinya dalam mengajar

h.  Peer Coaching

Guru meminta teman sejawatnya untuk melatih/ mendampinginya menerapkan suatu metode pembelajaran

i.    Mentoring and Induction

·   Guru yunior melakukan program induksi (pengenalan dan pembiasaan pekerjaan) di bawah bimbingan (mentor) seorang guru senior.

·   Pengawas/kepala sekolah dapat menunjuk guru senior sebagai mentornya.

 

 

 

2.Teknik Supervisi Kelompok

Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. Guru-guru yang diduga, sesuai dengan analisis kebutuhan, memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan-kelemahan yang sama dikelompokkan atau dikumpulkan menjadi satu/bersama-sama. Kemudian kepada mereka diberikan layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhan yang mereka hadapi. Menurut Gwynn, ada tiga belas teknik supervisi kelompok, sebagai berikut.

a.    Kepanitiaan-kepanitiaan

b.    Kerja kelompok

c.    Laboratorium kurikulum

d.    Baca terpimpin

e.    Demonstrasi pembelajaran

f.     Darmawisata

g.    Kuliah/studi

h.    Diskusi panel

i.     Perpustakaan jabatan

j.     Organisasi profesional

k.    Buletin supervisi

l.     Pertemuan guru

m.  Lokakarya atau konferensi kelompok

 

D. Supervisi Klinik

Demikian tiga pokok dalam proses supervisi klinik. Ketiga tahap ini sebenarnya berbentuk siklus, yaitu tahap pertemuan awal, tahap observasi mengajar, dan tahap pertemuan balikan. Rincian ketiga tahap ini telah dibahas di muka, dan terangkum dalam gambar  berikut ini.

Tahap Pertemuan Awal

Ø  Menganalisa rencana pelajaran.

Ø  Menetapkan bersama guru aspek-aspek yang akan diobservasi dalam mengajar.

 

Tahap Pertemuan Balikan

Ø  Menganalisa hasil observasi bersama guru.

Ø  Menganalisa perilaku mengajar

Ø  Bersama menetapkan aspek-aspek yang harus dilakukan untuk membantu perkembangan keterampilan mengajar berikutnya

 

Tahap Observasi Mengajar

Ø  Mencatat peristiwa selama pengajaran.

Ø  Catatan harus obyektif dan selektif.

 

E. Langkah-langkah Pembinaan Kemampuan Guru

Ada lima langkah pembinaan kemampuan guru melalui supervisi akademik, yaitu:

1.     Menciptakan Hubungan yang Harmonis.

Ada sejumlah prinsip komunikasi yang harus diterapkan oleh kepala sekolah, sebagaimana dikemukakan oleh Marks, Stoops dan Stoops, sebagai berikut.

a.      Berbicaralah sebijaksana dan sebaik mungkin

b.     Ikutilah pembicaraan orang lain secara saksama

c.      Ciptakan hubungan interpersonal antar personil

d.     Berpikirlah sebelum berbicara

e.      Ikutilah norma-norma yang berlaku pada latar sekolah

f.       Usahakanlah untuk memahami pendapat orang lain

g.     Konsentrasikan pada pesanmu, bukan pada dirimu sendiri

h.     Kumpulkan materi untuk mengadakan diskusi bila perlu

i.       Persingkat pembicaraan

j.       Ciptakan ketidaksanggupan

k.      Bersemangatlah

l.       Raihlah sikap orang lain untuk membantu program

m.    Berkomunikasilah dengan “eye communication”

n.     Selalu mencoba

o.     Jadilah pendengar yang baik

p.     Ketahuilah kapan sebaiknya berhenti berkomunikasi

 

2.     Analisis Kebutuhan

Analisis kebutuhan merupakan upaya menentukan perbedaan antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipersyaratkan dan yang secara nyata dimiliki. Salah satu prinsip supervisi pengajaran adalah obyektif, artinya dalam penyusunan program supervisi pengajaran harus didasarkan pada kebutuhan nyata pengembangan profesional guru. Analisis kebutuhan meliputi :

  1. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan atau masalah-masalah pendidikan – perbedaan (gap) apa saja yang ada antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang nyata dimiliki guru dan yang seharusnya dimiliki guru? Perbedaan di kelompok, disintesiskan, dan diklasifikasi.
  2. Mengidentifikasi lingkungan dan hambatan-hambatannya.
  3. Menetapkan tujuan umum jangka panjang.
  4. Mengidentifikasi tugas-tugas manajemen yang dibutuhkan fase ini, seperti keuangan, sumber-sumber, perlengkapan dan media.
  5. Mencatat prosedur-prosedur untuk mengumpulkan informasi tambahan tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki guru. Pergunakanlah teknik-teknik tertentu, seperti mengundang konsultan dari luar sekolah, wawancara, dan kuesioner.
  6. Mengidentifikasi dan mencatat kebutuhan-kebutuhan khusus pembinaan keterampilan pembelajaran guru. Pergunakanlah kata-kata perilaku atau performansi.
  7. Menetapkan kebutuhan-kebutuhan pembinaan keterampilan pembelajaran guru yang bisa dibina melalui teknik dan media selain  pendidikan.
  8. Mencatat dan memberi kode kebutuhan-kebutuhan pembinaan keterampilan pembelajaran guru yang akan dibina melalui cara-cara lainnya.

3.     Pelaksanaan Supervisi Akademik

Menurut Gwynn (1961), teknik-teknik supervisi bila dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu teknik supervisi individual dan teknik supervisi kelompok. Tujuan pengembangan strategi dan media supervisi akademik ini adalah sebagai berikut.

a.      Mendaftar pembinaan-pembinaan keterampilan pengajaran yang akan dilakukan dengan menggunakan teknik supervisi individual.

b.     Mendaftar pembinaan keterampilan pengajaran yang akan dilakukan melalui teknik supervisi kelompok.

c.      Mendaftar mengidentifikasi dan memilih teknik dan media supervisi yang siap digunakan untuk membina keterampilan pengajaran guru yang diperlukan.

 

4.     Evaluasi Keberhasilan Supervisi Akademik

Evaluasi keberhasilan supervisi akademik (1)  menentukan apakah pengajar (guru) telah mencapai kriteria pengukuran sebagaimana dinyatakan dalam tujuan pembinaan, dan (2) untuk menentukan validitas teknik pembinaan dan komponen-komponennya dalam rangka perbaikan proses pembinaan berikutnya.

5.     Perbaikan Program Supervisi Akademik

a.      Me-review rangkuman hasil penilaian.

b.     Apabila ternyata tujuan pembinaan keterampilan pengajaran guru tidak dicapai, maka sebaiknya dilakukan penilaian ulang terhadap pengetahuan, keterampilan dan sikap guru yang menjadi tujuan pembinaan.

c.      Apabila ternyata memang tujuannya belum tercapaim maka mulailah merancang kembali program supervisi akademik guru untuk masa berikutnya.

d.     Mengimplementasikan program pembinaan yang telah dirancang kembali pada masa berikutnya.

No comments:

Post a Comment